Para ilmuwan dari Australia dan Amerika menemukan ketika tubuh ketagihan garam aktivitas otak akan memicu gen dan sel-sel otak yang sama seperti pada ketagihan rokok dan narkoba. Penelitian itu dilakukan terhadap tikus di laboratorium. Tikus-tikus itu sebagian diberi makanan rendah garam dan sebagian diberi garam. Kemudian aktivitas otak tikus itu dibandingkan. Para peneliti juga meneliti aktivitas otak tikus yang puasa garam selama 3 hari kemudian diberi minuman yang mengandung garam.
Ketika tikus menginginkan garam, sel otak mereka menghasilkan protein lebih banyak, serupa dengan adiksi pada zat-zat seperti heroin, kokain dan nikotin. Kemudian gejala ketagihan garam mereda beberapa saat setelah tikus itu diberi garam, bahkan sebelum garam mencapai lambung, masuk ke peredaran darah dan sampai di otak.
Yang mengagumkan adalah bahwa gen yang pasif akibat kekurangan sodium langsung hidup kembali dalam beberapa menit setelah mendapat garam. Hal itu juga bagian dari evolusi mekanisme pertahanan diri binatang. Karena saat mereka kehausan dan menemukan sumber air, mereka akan segera menghabiskan air dan pergi agar tidak ditangkap predator.
Kebanyakan Garam Rugikan Kesehatan
Garam dalam masakan memang berperan besar untuk menimbulkan rasa yang lezat dan gurih, namun dalam jumlah yang tinggi garam menjadi pemicu beberapa masalah kesehatan, mulai dari darah tinggi sampai gagal ginjal.
Garam dapur atau garam dalam pengertian sehari-hari adalah jenis garam yang terdiri dari unsur mineral natrium (Na) alias sodium dan klorida (Cl) yang bergabung menjadi satu molekul bernama natrium klorida (NaCl). Jumlah sodium dalam garam dapur sekitar 40 persen dan sisanya ion klorida.
Sodium atau natrium tersebut dibutuhkan tubuh untuk proses metabolisme, menjaga regulasi volume dan tekanan darah, serta kontraksi otot dan transmisi sel saraf. Kendati demikian, konsumsi garam pada tiap orang dianjurkan tidak lebih dari 6 gram (setara 1 sendok teh) setiap hari. Berdasarkan Pedoman Gizi Seimbang jumlah 6 gram itu sama dengan 2300 mg natrium. Yang menjadi masalah kesehatan sebenarnya adalah natrium, bukan garam secara keseluruhan.
Asupan garam yang tinggi ini berkaitan erat dengan terjadinya tekanan darah tinggi. Riset menunjukkan kenaikan setengah sendok teh garam akan menaikkan tekanan sistolik 5 poin dan tekanan diastolik 3 poin. Sebaliknya mengurangi garam menjadi kurang dari 1 sendok teh akan menurunkan tekanan sistolik 7 poin dan diastolik 4 poin.
Selain memicu hipertensi konsumsi garam yang tinggi juga bisa mengganggu kerja ginjal. Sebenarnya tubuh punya mekanisme untuk mengeluarkan kelebihan garam, tapi karena tingginya garam yang diasup ginjal jadi kesulitan untuk mengeluarkan. Akibatnya jumlah natrium di dalam tubuh sangat banyak. Padahal, natrium memiliki sifat mengikat cairan (retensi cairan).
Ketika jumlah natrium dalam tubuh tinggi, maka jumlah cairannya ikut meningkat sehingga volume darah bertambah dan tekanannya semakin besar. Jika ditambah dengan konsumsi lemak berlebih yang mengakibatkan pembuluh darahnya mengecil, akibatnya bisa fatal karena pembuluh darahnya bisa pecah. Beberapa penelitian juga menunjukkan asupan garam yang tinggi akan mempercepat perburukan fungsi ginjal terutama pada pasien-pasien penyakit ginjal. Itu sebabnya kita disarankan untuk mulai menjaga jarak dengan garam dan mengonsumsi lebih banyak sayuran dan buah.
sumber article : Garam Juga Punya Efek Candu - Informasi Kesehatan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar